Alhamdulillah tahun baru Islam akan menyapa kita kembali dengan berbagai kemuliaan dan keagungannya. Kita harap ditahun baru ini kita bisa menjaga lembaran-lembaran hidup yang masih bersih dan dapat menghapus coretan-coretan dosa yang kita lakukan ditahun yang telah kita lewati.
Kita tahu bahwa ditahun Hijriyah ada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Alloh subhanahu wa ta'ala. Bulan-bulan tersebut adalah : Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab (Jawa : Selo, Besar, Suro dan Rejeb). Tentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Alloh ini, Rosullulloh bersabda : "Tiga bulannya saling berurutan (Dzulqo'dah, Dzulhijjah dan Muharrom) dan yang satu menyendiri (Rojab, ditengah tahun).
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman : "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri" QS. at Taubah : 36. Dan bulan Muharrom, seperti yang telah disebutkan adalah termasuk salah satu bulan-bulan yang dimuliakan oleh Alloh, dan tentu didalamnya ada beberapa keutamaan.
Akan tetapi, para ulama' memperselisihkan bulan manakah yang lebih mulia daripada bulan yang lainnya diantara empat bulan ini?
Imam Hasan berkata, yang paling utama dari beberapa bulan tersebut adalah bulan Muharrom.
Dalam hadist Rosullulloh yang diriwayatkan oleh Imam Nasa'i dari hadist Abi Dzar, beliau berkata : aku bertanya kepada Rosullulloh shollallohu alaihi wasallam, "malam apakah yang paling utama dan bulan apakah yang paling utama?" Maka beliau menjawab : "Sebaik-baik malam adalah pertengahan malam, dan paling utamanya bulan adalah bulan yang kalian semua berdo'a didalam bulan tersebut, yakni Muharrom".
Kita juga tahu Alloh subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia dalam keadaan lemah yang tidak mempunyai daya apapun. Dan diantara kelemahan yang selalu menghinggapi manusia adalah lupa. Baik itu lupa akan pekerjaan yang telah dilakukan, lupa dimana kita menempatkan barang, ataupun lupa akan dosa yang telah kita lakukan.
Akan tetapi, walaupun Alloh subhanahu wa ta'ala memberikan sifat lupa kepada manusia, yang dengan lupa tersebut manusia menjadi durhaka dan berbuat seenaknya (ma'siat), Alloh memberi kita dan menyiapkan bagi kita pelebur dosa yang dapat membersihkan dosa yang telah mereka lakukan. Diantara sarana yang disediakan Alloh adalah :
1. Segera menyusul kejelekan yang telah dilakukan dengan kebaikan. Karena dengan itu, niscaya kebersihan akan melebur dosa-dosa akibat kejelekan yang telah dilakukan.
2. Banyak membaca sholawat kepada Rosullulloh shollallohu alaihi wasallam.
3. Banyak membaca istighfar dan menyesali dosa yang telah dilakukan.
Ketiga hal ini adalah kebaikan secara umum yang bisa kita lakukan dimana saja dan kapan saja. Sementara itu, disana ada waktu dan tempat yang kita dianjurkan secara khusus untuk memanfaatkannya sebagai sarana pelebur dosa dan memohon ampun. Salah satu dari waktu yang dianjurkan itu adalah pada bulan Muharrom, tepatnya pada tanggal 10 Muharrom, yang biasa dikenal dengan Asyuro.
Pada waktu Asyuro tersebut, Rosullulloh menganjurkan umatnya agar menggunakan dengan baik hari itu untuk meminta ampunan pada Alloh dengan cara berpuasa pada hari itu. Dan diantara fadhilah (keutamaan) puasa Asyuro adalah melebur dosa kita setahun yang telah lewat.
Akan tetapi, karena puasa Asyuro juga dijalankan oleh orang-orang Yahudi, maka agar kita sebagai Muslim tidak menyerupai mereka, kita disunnahkan juga berpuasa sehari sebelum Asyuro, yaitu pada tanggal 9 Muharrom, yang dikenal dengan Tasu'a.
SEJARAH HARI ASYURO
Hari Asyuro dan puasa didalamnya tidak hanya dikenal pada zaman Rosullulloh shollallohu alaihi wasallam saja. Akan tetapi puasa hari Asyuro sudah dikenal pada zaman jahiliyah.
Dalham bin Sholeh bertanya pada Ikrimah, "Ada apa dengan Asyuro?" Ikrimah pun menjawab : "Orang Quraisy pernah melakukan dosa pada masa jahiliyah, dan dosa itu terasa berat dihati mereka. Mereka pun bertanya, bagaimanakah cara mereka bertaubat? Maka dikatakan bahwa mereka pun harus berpuasa pada tanggal 10 Muharrom (Asyuro)".
Disamping sebagai sarana pelebur dosa, maka puasa Asyuro juga merupakan sebuah hari raya atau hari ulang tahun mengenang semua kejadian besar yang pernah ada didunia ini. Diantara kejadian-kejadian besar tersebut adalah :
1. Asyuro adalah hari pertama sejarah peradaban manusia dimulai, yakni ketika Nabiyulloh Adam alaihissalam bersama istrinya, sayyidatuna Hawwa turun kedunia.
2. Pada hari itu Alloh banyak sekali menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah, diantaranya pada hari itu Alloh menerima taubat Nabiyulloh Adam alaihissalam, taubat kaum Nabiyulloh Yunus alaihissalam dan taubat kaum Nabi Musa alaihissalam.
3. Pada hari itu Nabiyulloh Musa alahissalam dan kaumnya selamat dari kejaran Fir'aun dan tentaranya, sekaligus hari tengelam dan kematian Fir'aun beserta pasukannya dilaut Merah.
4. Pada hari itu pula, perahu Nabiyulloh Nuh alaihissalam berlabuh digunung Judiy.
Sebagai rasa syukur, maka Nabiyulloh Nuh dan Nabiyulloh Musa alaihimassalam pun berpuasa pada hari itu.
Kita tahu bahwa ditahun Hijriyah ada bulan-bulan yang dimuliakan oleh Alloh subhanahu wa ta'ala. Bulan-bulan tersebut adalah : Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab (Jawa : Selo, Besar, Suro dan Rejeb). Tentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Alloh ini, Rosullulloh bersabda : "Tiga bulannya saling berurutan (Dzulqo'dah, Dzulhijjah dan Muharrom) dan yang satu menyendiri (Rojab, ditengah tahun).
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman : "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri" QS. at Taubah : 36. Dan bulan Muharrom, seperti yang telah disebutkan adalah termasuk salah satu bulan-bulan yang dimuliakan oleh Alloh, dan tentu didalamnya ada beberapa keutamaan.
Akan tetapi, para ulama' memperselisihkan bulan manakah yang lebih mulia daripada bulan yang lainnya diantara empat bulan ini?
Imam Hasan berkata, yang paling utama dari beberapa bulan tersebut adalah bulan Muharrom.
Dalam hadist Rosullulloh yang diriwayatkan oleh Imam Nasa'i dari hadist Abi Dzar, beliau berkata : aku bertanya kepada Rosullulloh shollallohu alaihi wasallam, "malam apakah yang paling utama dan bulan apakah yang paling utama?" Maka beliau menjawab : "Sebaik-baik malam adalah pertengahan malam, dan paling utamanya bulan adalah bulan yang kalian semua berdo'a didalam bulan tersebut, yakni Muharrom".
Kita juga tahu Alloh subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia dalam keadaan lemah yang tidak mempunyai daya apapun. Dan diantara kelemahan yang selalu menghinggapi manusia adalah lupa. Baik itu lupa akan pekerjaan yang telah dilakukan, lupa dimana kita menempatkan barang, ataupun lupa akan dosa yang telah kita lakukan.
Akan tetapi, walaupun Alloh subhanahu wa ta'ala memberikan sifat lupa kepada manusia, yang dengan lupa tersebut manusia menjadi durhaka dan berbuat seenaknya (ma'siat), Alloh memberi kita dan menyiapkan bagi kita pelebur dosa yang dapat membersihkan dosa yang telah mereka lakukan. Diantara sarana yang disediakan Alloh adalah :
1. Segera menyusul kejelekan yang telah dilakukan dengan kebaikan. Karena dengan itu, niscaya kebersihan akan melebur dosa-dosa akibat kejelekan yang telah dilakukan.
2. Banyak membaca sholawat kepada Rosullulloh shollallohu alaihi wasallam.
3. Banyak membaca istighfar dan menyesali dosa yang telah dilakukan.
Ketiga hal ini adalah kebaikan secara umum yang bisa kita lakukan dimana saja dan kapan saja. Sementara itu, disana ada waktu dan tempat yang kita dianjurkan secara khusus untuk memanfaatkannya sebagai sarana pelebur dosa dan memohon ampun. Salah satu dari waktu yang dianjurkan itu adalah pada bulan Muharrom, tepatnya pada tanggal 10 Muharrom, yang biasa dikenal dengan Asyuro.
Pada waktu Asyuro tersebut, Rosullulloh menganjurkan umatnya agar menggunakan dengan baik hari itu untuk meminta ampunan pada Alloh dengan cara berpuasa pada hari itu. Dan diantara fadhilah (keutamaan) puasa Asyuro adalah melebur dosa kita setahun yang telah lewat.
Akan tetapi, karena puasa Asyuro juga dijalankan oleh orang-orang Yahudi, maka agar kita sebagai Muslim tidak menyerupai mereka, kita disunnahkan juga berpuasa sehari sebelum Asyuro, yaitu pada tanggal 9 Muharrom, yang dikenal dengan Tasu'a.
SEJARAH HARI ASYURO
Hari Asyuro dan puasa didalamnya tidak hanya dikenal pada zaman Rosullulloh shollallohu alaihi wasallam saja. Akan tetapi puasa hari Asyuro sudah dikenal pada zaman jahiliyah.
Dalham bin Sholeh bertanya pada Ikrimah, "Ada apa dengan Asyuro?" Ikrimah pun menjawab : "Orang Quraisy pernah melakukan dosa pada masa jahiliyah, dan dosa itu terasa berat dihati mereka. Mereka pun bertanya, bagaimanakah cara mereka bertaubat? Maka dikatakan bahwa mereka pun harus berpuasa pada tanggal 10 Muharrom (Asyuro)".
Disamping sebagai sarana pelebur dosa, maka puasa Asyuro juga merupakan sebuah hari raya atau hari ulang tahun mengenang semua kejadian besar yang pernah ada didunia ini. Diantara kejadian-kejadian besar tersebut adalah :
1. Asyuro adalah hari pertama sejarah peradaban manusia dimulai, yakni ketika Nabiyulloh Adam alaihissalam bersama istrinya, sayyidatuna Hawwa turun kedunia.
2. Pada hari itu Alloh banyak sekali menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah, diantaranya pada hari itu Alloh menerima taubat Nabiyulloh Adam alaihissalam, taubat kaum Nabiyulloh Yunus alaihissalam dan taubat kaum Nabi Musa alaihissalam.
3. Pada hari itu Nabiyulloh Musa alahissalam dan kaumnya selamat dari kejaran Fir'aun dan tentaranya, sekaligus hari tengelam dan kematian Fir'aun beserta pasukannya dilaut Merah.
4. Pada hari itu pula, perahu Nabiyulloh Nuh alaihissalam berlabuh digunung Judiy.
Sebagai rasa syukur, maka Nabiyulloh Nuh dan Nabiyulloh Musa alaihimassalam pun berpuasa pada hari itu.
Selain yang hal-hal yang dapat mendatangkan pahala banyak hal-hal baru (Bid'ah) yang tersebar di masyarakat di bulan muharrom ini, diantaranya adalah:
1. Keyakinan bahwa bulan Muharrom bulan keramat
Keyakinan semacam ini masih bercokol pada sebagian masyarakat. Atas dasar keyakinan ala jahiliyyah inilah banyak dikalangan masyarakat yang enggan menikahkan putrinya pada bulan ini karena alasan akan membawa sial dan kegagalan dalam berumah tangga!! (-lihat- Syarh Masail al-Jahliyyah, DR. Sholih al-Fauzan hal.302). ketahuilah saudaraku, hal ini adalah keyakinan jahiliyyah yang telah dibatalkan oleh Islam. Kesialan tidak ada sangkut pautnya dengan bulan, baik Muharrom, Shafar atau bulan-bulan lainnya.
2. Doa awal dan akhir tahunSyaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata: "Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid'ah berupa doa, dzikir atau tukar menukar ucapan selamat, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharrom dengan sholat, dzikir atau doa, puasa akhir tahun dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!!". (Tashih ad-Duu'a, Bakr Abu Zaid hal.107
3. Peringatan tahun baru hijriyyahTidak ragu lagi perkara ini termasuk bid'ah. Tidak ada keterangan dalam as-Sunnah anjuran mengadakan peringatan tahun baru hijriyyah. Perkara ini termasuk bid'ah yang jelek. (Bida' wa Akhto' hal.218. Lihat secara luas masalah ini dalam risalah Al-Ikhtifal bi Ra'si Sanah wa Musybahati ashabil jahim oleh Abdulloh bin Abdul Hamid al-Atsari)
4. Puasa awal tahun baru hijriyyahPerkara ini termasuk bid'ah yang mungkar. Demikian pula puasa akhir tahun, termasuk bid'ah. Hanya dibuat-buat yang tidak berpijak pada dalil sama sekali!. Barangkali mereka berdalil dengan sebuah hadits yang berbunyi;
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِْجَّةِ, وَاَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ, فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ, جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً
Barang siapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharrom, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Alloh menghapuskan dosanya selamalima puluh tahun!!". Hadits ini adalah hadits yang palsu menurut timbangan para ahli hadits. (al-A'lai al-Mashnu'ah, as-Suyuti 2/108, Tanziihus Syari'ah, Ibnu Arroq 2/148, al-Fawaid al-Majmu'ah, as-Syaukani no.280. Kritik Hadits-hadits Dho'if populer, Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi hal.114)
5. Menghidupkan malam pertama bulan Muharrom
Syaikh Abu Syamah berkata: "Tidak ada keutamaan sama ekali pada malam pertama bulan Muharrom. Aku sudah meneliti atsar-atsar yang shohih maupun yang lemah dalam masalah ini. Bahkan dalam hadits-hadits yang palsu juga tidak disebutkan!!, aku khawatir –aku berlindung kepada Alloh- bahwa perkara ini hanya muncul dari seorang pendusta yang membuat-buat hadits!!. (al-Ba'itsAla Inkaril Bida' wal Hawadits hal.239).
6. Menghidupkan malam hari 'Asyuro
Sangat banyak sekali kemungkaran dan bid'ah-bid'ah yang dibuat pada hari 'Asyuro. (lihat Iqtidho' as-Shiroth al-Mustaqim 2/129-134, Majmu' Fatawa 25/307-314 keduanya oleh Ibnu Taimiyyah, al-Ibda' fi Madhoril Ibtida' Ali Mahfuzh hal.56, 269, as-Sunan wal Mubtada'at hal.154-158, 191). Kita mulai dari malam harinya. Banyak manusia yang menghidupkan malam hari 'Asyuro, baik dengan sholat, doa dan dzikir atau sekedar berkumpul-kumpul. Perkara ini jelas tidak ada tuntunan yang menganjurkannya.Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: "Termasuk bentuk bid'ah dzikir dan doa adalah menghidupkan malam hari 'Asyuro dengan dzikir dan ibadah. Mengkhususkan doa pada malam hari ini dengan nama doa hari 'Asyuro, yang konon katanya barangsiapa yang membaca doa ini tidak akan mati tahun tersebut. Atau membacasurat al-Qur'an yang disebutkan nama Musa pada sholat subuh hari 'Asyuro. (Bida' al-Qurro Bakr Abu Zaid hal.9). semua ini adalah perkara yang tidak dikehendaki oleh Alloh, Rosul-Nya dan kaum mukminin!!". (Tashihud Du'a hal.109).
7. Sholat 'Asyuro
Sholat 'Asyuro adalah sholat yang dikerjakan antara waktu zhuhur dan ashar, empat rakaat, setiap rakaat membaca al-Fatihah sekali, kemudian membaca ayat kursi sepuluh kali, Qul Huwallohu Ahad sepuluh kali, al-Falaq dan an-Nas lima kali. Apabila selesai salam, istighfar tujuh puluh kali. Orang-orang yang menganjurkan sholat ini dasarnya hanyalah sebuah hadits palsu!! (al-Fawaid al-Majmu'ah no.60 al-Alaa'i al-Masnu'ah 2/92).As-Syuqoiry berkata: "Hadits sholat 'Asyuro adalah hadits palsu.Para perowinya majhul, sebagaimana disebutkan oleh as-Suyuti dalam al-Aala'i al-Masnu'ah. Tidak boleh meriwayatkan hadits ini, lebih-lebih sampai mengamalkannya!!" (as-Sunan wal Mubtada'at hal.154)
8. Doa hari 'Asyuro
Diantara contoh doa 'Asyuro adalah: "Barangsiapa yang mengucapkan Hasbiyalloh wa Ni'mal Wakil an-Nashir sebanyak tujuh puluh kali pada hari 'Asyuro maka Alloh akan menjaganya dari kejelekan pada hari itu".Doa ini tidak ada asalnya dari Nabi, para sahabat maupun para tabi'in. tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah apalagi hadits yang shohih. Doa ini hanya berasal dari ucapan sebagian manusia!!. Bahkan sebagian syaikh sufi ada yang berlebihan bahwa barangsiapa yang membaca doa ini pada hari 'Asyuro dia tidak akan mati pada tahun tersebut!!. (Du'a Khotmil Qur'an, Ahmad Muhammad al-Barrok, buku ini sarat dengan khurofat dan kedustaan!!. [Bida' wa Akhtho hal.230]). Ucapan ini jelas bathil dan mungkar, karena Alloh telah berfirman:
إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاء لا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya ketetapan Alloh apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui. (QS. Nuh: 4)
9. Memperingati hari kematian Husein
Pada bulan Muharrom, kelompok Syi'ah setiap tahunnya mengadakan upacara kesedihan dan ratapan dengan berdemontrasi ke jalan-jalan dan lapangan, memakai pakaian serba hitam untuk mengenang gugurnya Husain. Mereka juga memukuli pipi mereka sendiri, dada dan punggung mereka, menyobek saku, menangis berteriak histeris dengan menyebut: Ya Husain. Ya Husain!!!
Lebih-lebih pada tanggal 10 Muharrom, mereka lakukan lebih dari itu, mereka memukuli diri sendiri dengan cemeti dan pedang sehingga berlumuran darah!!! Anehnya, mereka menganggap semua itu merupakan amalan ibadah dan syi'ar Islam!! Hanya kepada Alloh kita mengadu semua ini. (lihat Min Aqoid Syi'ah/Membongkar kesesatan Aqidah Syi'ah hlm.57-58, Syaikh Abdulloh bin Muhammad).Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab: "Adapun menjadikan hari 'Asyuro sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rofidhoh karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik. Alloh dan rosulNya saja tidak pernah memerintahkan agar hari mushibah dan kematian para Nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka?!" (Lathoiful Ma'arif hlm.113)Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah cucu Rosululloh dari perkawinan Ali bin Abi Tholib dengan putrinya Fatimah binti Rosululloh. Husain sangat dicintai oleh Rosululloh. Beliau bersabda:
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا ، حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنَ الأَسْبَاط
Husain adalah bagianku juga dan aku adalah bagian Husain. Semoga Alloh mencintai orang yang mencintai Husain. Husain termasuk cucu keturunanku. [HR. Tirmidzi: 3775, Ibnu Majah:114, Ibnu Hibban: 2240, Hakim: 3/177, Ahmad: 4/172, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 1227]
Husain terbunuh pada peristiwa yang sangat tragis, yaitu pada 10 muharrom tahun 61 H, disebuah tempat bernama Karbala, karenanya peristiwa ini kemudian lebih dikenal dengan peristiwa Karbala. (lihat kisah lengkapnya dalam al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir 8/172-191)Namun, apapun musibah yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rosululloh bukan alasan untuk bertindak melanggar aturan syariat dengan memperingati hari kematian Husain!!. Sebab, peristiwa terbunuhnya orang yang dicintai Rosululloh sebelum Husain juga pernah terjadi seperti terbunuhnya Hamzah bin Abdil Mutholib, dan hal itu tidak menjadikan Rosululloh dan para sahabatnya mengenang atau memperingati hari peristiwa tersebut, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syiah untuk mengenang terbunuhnya Husain!!. (Syarh al-Muharrom wa Yaum 'Asyuro, Abdulloh Haidir hal.29)
10. Peringatan hari suka cita
Yang dimaksud hari suka cita adalah hari menampakkan kegembiraan, menghidangkan makanan lebih dari biasanya dan memakai pakaian bagus. Mereka yang membuat acara ini, ingin menyaingi dan mengganti hari kesedihan atas peristiwa terbunuhnya Husain dengan kegembiraan, kontra dengan apa yang dilakukan orang-orang Syiah. Tentunya, acara semacam ini tidak dibenarkan, karena bid'ah tidak boleh dilawan dengan bid'ah yang baru!! Dan tidak ada satu dalilpun yang membolehkan acara semacam ini. (Majmu' Fatawa 25/309-310, Iqtidho as-Siroth al-Mustaqiem 2/133, Tamamul Minah, al-Albani hal.412)
11. Berbagai ritual dan adat di tanah Air
Di tanah air, bila tiba hari 'Asyuro kita akan melihat berbagai adat dan ritual yang beraneka ragam dalam rangka menyambut hari istimewa ini. Apabila kita lihat secara kacamata syar'i, adat dan ritual ini tidak lepas dari kesyirikan! Seperti meminta berkah dari benda-benda yang dianggap sakti dan keramat, bahkan yang lebih mengenaskan sampai kotoran sapi-pun tidak luput untuk dijadikan alat pencari berkah!!. (diantara adat ritual yang sering dilakukan didaratan Jawa adalah yang dikenal dengan istilah Kirab 1 Syuro. Acara ini sarat dengan kesyirikan, mulai dari keyakinan mereka terhadap benda pusaka keraton, keyakinan kerbau yang punya kekuatan ghaib, tirakatan dengan doa dan dzikir pada malam harinya dan kemungkaran-kemungkaran lainnya yang sangat jelas!!. Wallohul Musta'an)
Demikianlah akhir yang dapat saya kumpulkan tentang amalan dan bid'ah dibulan Muharrom. Semoga bermanfaat. Allohu A'lam.
2. Doa awal dan akhir tahunSyaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata: "Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid'ah berupa doa, dzikir atau tukar menukar ucapan selamat, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharrom dengan sholat, dzikir atau doa, puasa akhir tahun dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali!!". (Tashih ad-Duu'a, Bakr Abu Zaid hal.107
3. Peringatan tahun baru hijriyyahTidak ragu lagi perkara ini termasuk bid'ah. Tidak ada keterangan dalam as-Sunnah anjuran mengadakan peringatan tahun baru hijriyyah. Perkara ini termasuk bid'ah yang jelek. (Bida' wa Akhto' hal.218. Lihat secara luas masalah ini dalam risalah Al-Ikhtifal bi Ra'si Sanah wa Musybahati ashabil jahim oleh Abdulloh bin Abdul Hamid al-Atsari)
4. Puasa awal tahun baru hijriyyahPerkara ini termasuk bid'ah yang mungkar. Demikian pula puasa akhir tahun, termasuk bid'ah. Hanya dibuat-buat yang tidak berpijak pada dalil sama sekali!. Barangkali mereka berdalil dengan sebuah hadits yang berbunyi;
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِْجَّةِ, وَاَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ, فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ, جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً
Barang siapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharrom, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Alloh menghapuskan dosanya selama
5. Menghidupkan malam pertama bulan Muharrom
Syaikh Abu Syamah berkata: "Tidak ada keutamaan sama ekali pada malam pertama bulan Muharrom. Aku sudah meneliti atsar-atsar yang shohih maupun yang lemah dalam masalah ini. Bahkan dalam hadits-hadits yang palsu juga tidak disebutkan!!, aku khawatir –aku berlindung kepada Alloh- bahwa perkara ini hanya muncul dari seorang pendusta yang membuat-buat hadits!!. (al-Ba'its
6. Menghidupkan malam hari 'Asyuro
Sangat banyak sekali kemungkaran dan bid'ah-bid'ah yang dibuat pada hari 'Asyuro. (lihat Iqtidho' as-Shiroth al-Mustaqim 2/129-134, Majmu' Fatawa 25/307-314 keduanya oleh Ibnu Taimiyyah, al-Ibda' fi Madhoril Ibtida' Ali Mahfuzh hal.56, 269, as-Sunan wal Mubtada'at hal.154-158, 191). Kita mulai dari malam harinya. Banyak manusia yang menghidupkan malam hari 'Asyuro, baik dengan sholat, doa dan dzikir atau sekedar berkumpul-kumpul. Perkara ini jelas tidak ada tuntunan yang menganjurkannya.Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: "Termasuk bentuk bid'ah dzikir dan doa adalah menghidupkan malam hari 'Asyuro dengan dzikir dan ibadah. Mengkhususkan doa pada malam hari ini dengan nama doa hari 'Asyuro, yang konon katanya barangsiapa yang membaca doa ini tidak akan mati tahun tersebut. Atau membaca
7. Sholat 'Asyuro
Sholat 'Asyuro adalah sholat yang dikerjakan antara waktu zhuhur dan ashar, empat rakaat, setiap rakaat membaca al-Fatihah sekali, kemudian membaca ayat kursi sepuluh kali, Qul Huwallohu Ahad sepuluh kali, al-Falaq dan an-Nas lima kali. Apabila selesai salam, istighfar tujuh puluh kali. Orang-orang yang menganjurkan sholat ini dasarnya hanyalah sebuah hadits palsu!! (al-Fawaid al-Majmu'ah no.60 al-Alaa'i al-Masnu'ah 2/92).As-Syuqoiry berkata: "Hadits sholat 'Asyuro adalah hadits palsu.
8. Doa hari 'Asyuro
Diantara contoh doa 'Asyuro adalah: "Barangsiapa yang mengucapkan Hasbiyalloh wa Ni'mal Wakil an-Nashir sebanyak tujuh puluh kali pada hari 'Asyuro maka Alloh akan menjaganya dari kejelekan pada hari itu".Doa ini tidak ada asalnya dari Nabi, para sahabat maupun para tabi'in. tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah apalagi hadits yang shohih. Doa ini hanya berasal dari ucapan sebagian manusia!!. Bahkan sebagian syaikh sufi ada yang berlebihan bahwa barangsiapa yang membaca doa ini pada hari 'Asyuro dia tidak akan mati pada tahun tersebut!!. (Du'a Khotmil Qur'an, Ahmad Muhammad al-Barrok, buku ini sarat dengan khurofat dan kedustaan!!. [Bida' wa Akhtho hal.230]). Ucapan ini jelas bathil dan mungkar, karena Alloh telah berfirman:
إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاء لا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya ketetapan Alloh apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui. (QS. Nuh: 4)
9. Memperingati hari kematian Husein
Pada bulan Muharrom, kelompok Syi'ah setiap tahunnya mengadakan upacara kesedihan dan ratapan dengan berdemontrasi ke jalan-jalan dan lapangan, memakai pakaian serba hitam untuk mengenang gugurnya Husain. Mereka juga memukuli pipi mereka sendiri, dada dan punggung mereka, menyobek saku, menangis berteriak histeris dengan menyebut: Ya Husain. Ya Husain!!!
Lebih-lebih pada tanggal 10 Muharrom, mereka lakukan lebih dari itu, mereka memukuli diri sendiri dengan cemeti dan pedang sehingga berlumuran darah!!! Anehnya, mereka menganggap semua itu merupakan amalan ibadah dan syi'ar Islam!! Hanya kepada Alloh kita mengadu semua ini. (lihat Min Aqoid Syi'ah/Membongkar kesesatan Aqidah Syi'ah hlm.57-58, Syaikh Abdulloh bin Muhammad).Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab: "Adapun menjadikan hari 'Asyuro sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rofidhoh karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik. Alloh dan rosulNya saja tidak pernah memerintahkan agar hari mushibah dan kematian para Nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka?!" (Lathoiful Ma'arif hlm.113)Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah cucu Rosululloh dari perkawinan Ali bin Abi Tholib dengan putrinya Fatimah binti Rosululloh. Husain sangat dicintai oleh Rosululloh. Beliau bersabda:
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا ، حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنَ الأَسْبَاط
Husain adalah bagianku juga dan aku adalah bagian Husain. Semoga Alloh mencintai orang yang mencintai Husain. Husain termasuk cucu keturunanku. [HR. Tirmidzi: 3775, Ibnu Majah:114, Ibnu Hibban: 2240, Hakim: 3/177, Ahmad: 4/172, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shohihah: 1227]
Husain terbunuh pada peristiwa yang sangat tragis, yaitu pada 10 muharrom tahun 61 H, disebuah tempat bernama Karbala, karenanya peristiwa ini kemudian lebih dikenal dengan peristiwa Karbala. (lihat kisah lengkapnya dalam al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir 8/172-191)Namun, apapun musibah yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai keluarga Rosululloh bukan alasan untuk bertindak melanggar aturan syariat dengan memperingati hari kematian Husain!!. Sebab, peristiwa terbunuhnya orang yang dicintai Rosululloh sebelum Husain juga pernah terjadi seperti terbunuhnya Hamzah bin Abdil Mutholib, dan hal itu tidak menjadikan Rosululloh dan para sahabatnya mengenang atau memperingati hari peristiwa tersebut, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syiah untuk mengenang terbunuhnya Husain!!. (Syarh al-Muharrom wa Yaum 'Asyuro, Abdulloh Haidir hal.29)
10. Peringatan hari suka cita
Yang dimaksud hari suka cita adalah hari menampakkan kegembiraan, menghidangkan makanan lebih dari biasanya dan memakai pakaian bagus. Mereka yang membuat acara ini, ingin menyaingi dan mengganti hari kesedihan atas peristiwa terbunuhnya Husain dengan kegembiraan, kontra dengan apa yang dilakukan orang-orang Syiah. Tentunya, acara semacam ini tidak dibenarkan, karena bid'ah tidak boleh dilawan dengan bid'ah yang baru!! Dan tidak ada satu dalilpun yang membolehkan acara semacam ini. (Majmu' Fatawa 25/309-310, Iqtidho as-Siroth al-Mustaqiem 2/133, Tamamul Minah, al-Albani hal.412)
11. Berbagai ritual dan adat di tanah Air
Di tanah air, bila tiba hari 'Asyuro kita akan melihat berbagai adat dan ritual yang beraneka ragam dalam rangka menyambut hari istimewa ini. Apabila kita lihat secara kacamata syar'i, adat dan ritual ini tidak lepas dari kesyirikan! Seperti meminta berkah dari benda-benda yang dianggap sakti dan keramat, bahkan yang lebih mengenaskan sampai kotoran sapi-pun tidak luput untuk dijadikan alat pencari berkah!!. (diantara adat ritual yang sering dilakukan didaratan Jawa adalah yang dikenal dengan istilah Kirab 1 Syuro. Acara ini sarat dengan kesyirikan, mulai dari keyakinan mereka terhadap benda pusaka keraton, keyakinan kerbau yang punya kekuatan ghaib, tirakatan dengan doa dan dzikir pada malam harinya dan kemungkaran-kemungkaran lainnya yang sangat jelas!!. Wallohul Musta'an)
Demikianlah akhir yang dapat saya kumpulkan tentang amalan dan bid'ah dibulan Muharrom. Semoga bermanfaat. Allohu A'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar