Dalam tulisan ini akan sedikit saya sampaikan pengalaman pribadi saya ketika menjadi Satgas Perlindungan TKI di Arab Saudi di bawah pengawasan Konsulat Jendral Republik Indonesi Jeddah tentang tindak kekerasan TKI sebagai refleksi saya dalam menanggapi berita terhangat minggu ini tentang penganiayaan terhadap TKW asal Indonesia di Saudi Arabia.
Penderitaan pahlawan devisa Indonesia terdengar lagi. Kali ini seorang TKW asal Cianjur ditemukan terbunuh dengan beberapa luka dan dugaan pemerkosaan. Ada beberapa TKW lain yang mengalami menganiyaan di Arab Saudi seperti Sumiyati yang dipukuli dan digunting bibirnya. Kalau disebutkan satu persatu akan membuat hati miris. Sebenarnya apa yang menyebabkan hal ini terjadi?
Banyak yang beranggapan terjadinya hal ini dikarenakan kurangnya keterampilan para TKI. Saya kurang setuju dengan pendapat ini. Walaupun hal itu bisa dijadikan sebab tapi sebab yang paling utama adalah Prilaku Orang Arab yang bisa dibilang Kejam. Kenapa saya bilang seperti itu? Faktanya adalah banyak orang arab menganggap para TKW adalah budak. Mereka sudah membayar mahal untuk semua proses pemberangkatannya dari Indonesia menuju Saudi, baik biaya passport, medical, Visa dan Tiket. Dengan ini mereka menganggap sudah membelinya dari Indonesia. Fakta lainnya, sifat keras yang melekat pada orang arab yang tidak punya sopan santun sesama keluarga apalagi terhadap tenaga kerja. Perlu diketaui bahwa perkataan yang mereka ucapkan dalam keseharian jauh dari etika sopan santun. Jika di negara kita kata-kata kotor seperti kebun binatang adalah hal yang paling jelek, akan tetapi lain halnya di Arab Saudi, mereka biasa mengatakan hal ini dan memanggil sesamanya dengan bahasa itu. Suatu hari saya melihat seorang ibu memanggil anaknya berulang kali namun sang anak tidak menghiraukannya, lalu ibu itu memukulnya. Apa yang dikatakan orang si anak kepada ibunya? mungkin hal ini tidak akan terjadi di Indonesia, sang anak membentak dan mengatakan "Hewan" kepada ibunya. Jika pada ibunya berani seperti itu lalu bagaimana dengan TKI kita disana?
Tahu anggapan orang arab tentang Tenaga Kerja Wanita Indonesia? Mereka menyebutnya "Khoddaamah" atau "Syaghalah" artinya adalah budak wanita. Padalah istilah resmi yang seharusnya dipakai adalah "Amilah Manziliyah" (Pekerja Rumah Tangga). Iseng saya coba brosing dengan kata Khoddamah خدامة . Apa yang pertama kali muncul? Mungkin anda tidak pernah menyangka, yang muncul pada rate pertama adalah tentang pelecehan seksual tehadap pekerja wanita, rate selanjutnya berisi kejelekan-kejelekan tenaga kerja wanita seperti kekerasan dah sihir.
Lantas apa solusinya? Menurut saya pribadi solisi terbaik adalah membatasi, atau bahkan stop, suplai TKI non formil seperti pembantu dan sopir ke luar negeri. Jangan mau kalah dengan pemerintah Philipina, Thailand dan India yang sudah tidak lagi menyediakan Tenaga Kerja non formil sejak beberapa tahun lalu. Data mengungkapkan setiap kejadian kekerasan yang dialami oleh TKI terjadi di sektor non formil.
Akan tetapi tidak sedikit kisah sukses dari mereka yang berhasil.
Ambilah pelajaran dari orang lain sebelum dijadikan pelajaran bagi orang lain.
H. Arief Syarifudin Amindar SHI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar